Daftar Blog Saya

Senin, 30 Desember 2013

Renugan ; Untukmu, wahai Pengemban Dakwah



Sholat tapi maksiat
Haji tapi korupsi
Puasa tapi ngumpat
Zakat tapi ria’
Berkata tapi berdusta
Berjanji tapi mengingkari
Bila dipercaya ia berkhianat
Tingkah lakunya kurang/tidak beradap
Ada masalah pd individunya, lantas apa masalahnya? Dia belum paham, maka tugas Pengemban Dakwah adalah memahamkannya.

Syariat Islam itu kejam
Negara Islam itu hanya ilusi
Khilafah itu tidak wajib
Khilafah itu utopis
Demokrasi tidak haram
Demokrasi bias dijadikan alat perjuangan tuk mnerapkan syariah Islam
Menjadikan orang kafir sebagai kawan itu  boleh
Pemerintahan Islam tidak harus dengan Khilafah. Boleh kerajaan, parlementer, presidensil dll
Ada masalah pd individunya, lantas apa masalahnya? Dia belum paham, maka tugas Pengemban Dakwah adalah memahamkannya.


Sikap Tegas Harun Ar-Rasyid Terhadap Nakfur, Raja Romawi



Pada tahun 187 H, Khalifah Harun ar-Rasyid menerima surat dari Kaisar Romawi, Nakfur (Nicephorus I [802-811 M]). Surat ini berisi pembatalan kesepakatan yang ada antara kaum Muslim dan Ratu Irene (797-802 M), Ratu Romawi.

Bunyi surat itu sebagai berikut:

“Dari Nakfur, Kaisar Romawi kepada Harun, Raja Arab. Sesungguhnya Ratu yang berkuasa sebelum saya telah memosisikan kamu laksana burung garuda raksasa, sedangkan dia sendiri memosisikan dirinya sebagai burung elang sehingga membuat dirinya membawa harta-hartanya kepadamu. Ini karena lemahnya seorang wanita dan kebodohannya. Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikanlah harta yang telah dia serahkan kepadamu sebelum ini. Jika tidak, maka pedanglah yang akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu.”

Ketika membaca surat ini, Khalifah Harun ar-Rasyid sangat tersinggung dan marah, sehingga tidak ada satu orang pun yang sanggup melihat wajahnya, dan berbicara dengannya. Orang-orang yang ada di sekelilingnya langsung berpencar, karena takut terkena marah. Lalu, ia meminta tinta, dan segera menulis surat balasan. Surat balasan itu berbunyi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Saya telah membaca surat kamu dengan jelas, wahai anak wanita kafir. Sebagai jawabannya, bukanlah apa yang kamu dengar, tetapi apa yang akan kamu lihat. Salam.”

Sang Khalifah pun berangkat pada hari yang sama, dan terus merangsek hingga ke Asia Kecil, hingga mencapai puncaknya tatkala ia menaklukkan Heraklius. Peristiwa ini merupakan peperangan yang sangat masyhur, sekaligus merupakan penaklukan yang sangat gemilang. Akhirnya, Nakfur minta dilakukan perundingan damai dengan cara membayar upeti tiap tahun. Khalifah agung itu pun menerima tawaran itu.

Sayangnya, tatkala kembali ke Riqqah, Anjing Romawi itu pun kembali menjilat ludahnya, mengingkari janjinya sendiri. Dengan anggapan, tidak mungkin Harun ar-Rasyid akan melakukan serangan kembali di musim dingin. Akhirnya, sang Khalifah agung ini kembali menyerang Romawi, hingga sampai ke teras Istana Kaisar Romawi yang tolol itu. Begitulah, wibawa penguasa kaum Muslim di mata musuhnya, yang sanggup menyumbat mulutnya dengan jihad, hingga tujuannya tercapai, dan mulutnya tidak lagi bisa mengingkari kesepakannya.

Abu al-‘Atahiyyah, dalam bait syairnya, melukiskan dengan indah peristiwa itu:

“Ketahuilah, Heraklius telah menyeru untuk hancurkan dirinya
Oleh raja yang bijak dan penuh nurani
Harun berangkat dengan membentangkan kematian
Dengan kilatan pedang yang begitu tajam..
Sedangkan panji-panji berkibar sebagai tanda kemenangan
Laksana awan yang bergerak dengan demikian kencang..

Pada tahun yang sama, Khalifah Harun ar-Rasyid telah membebaskan seluruh kaum Muslim yang menjadi tawanan Romawi, di seluruh wilayah Romawi, sehingga tidak ada lagi seorang Muslim pun yang tersisa menjadi tawanan mereka. [dinukil dari Tarikh al-Khulafa’, karya Imam as-Suyuthi, hal. 349-350]

Sabtu, 28 Desember 2013

BERBUAT MAKSIAT

Silakan berbuat maksiat, tp penuhilah 5 syarat !




Pada suatu ada seorang pemuda yang menemui Ibrahim bin Adham r.a. dan berkata, “Ya Aba Ishak! Saya ini suka melakukan dosa. Tolong dong, ada tips nggak biar saya bisa nggak maksiat lagi.”
Mendengar hal ini, Ibrahim bin Adham r.a. pun berkata, “Jika bisa memenuhi lima syarat berikut ini, kamu bebas untuk melakukan perbuatan maksiat.”
“Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?” Lelaki itu tak sabar mendengar berita gembira itu.”

“Syarat pertama,” Ujar Aba Ishak, “jika kamu ingin bermaksiat pada Allah, jangan mengkonsumsi rezeki-Nya.”
Lelaki itu bingung dan berkata, “Lha, terus saya mau makan apa? Kan semua ini adalah rezeki dari Allah.”
“Kalau begitu, apa pantas kamu makan rezeki-Nya sedang kamu melanggar perintah-Nya?”
“Oke deh,

syarat keduanya apa?”
“Kalau kamu mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya.”
“Hah? Waduh. Terus aku mau tinggal di mana? Bumi dan seisinya ini kan milik Allah.”
“Ya Abdallah, mikir dong, apa kamu pantes makan rezki Allah dan nge-kos di bumi-Nya sedangkan kamu bermaksiat pada Allah.”
“Ya... iya deh.

Terus syarat ketiganya apaan?”
“Kalau kamu mau bermaksiat kepada Allah, tapi juga ingin memakan rezki-Nya dan tinggal di tempat-Nya, bermaksiat-Nya di tempat yang nggak diliat-Nya aja.”
“Ya Ibrahim. Ini nasehat macam apa? Mana mungkin saya ngumpet di tempat yang tidak dilihat-Nya.”
“Nyerah deh.

Syarat keempatnya apa?”
“Kalau malaikat maut datang menjemput kamu, bilangin ke dia, “nanti aja matinya. Saya masih mau tobat dan beramal saleh dulu.””
“Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat mau nurut omongan saya.”
“Lha, kalo kamu sadar bahwa kematian nggak bisa ditunda, terus jalan apa yang bisa membuat kamu keluar dari murka Allah?”

“Ya sudah, sekarang syarat kelimanya.”
”Nanti di akherat, kalau malaikat Zabaniyah datang untuk membawa kamu ke neraka, jangan ikut sama dia.”
“Ya Aba Ishak. Mana mungkin malaikat Zabaniyah menerima keberatan saya.”
“Kalau begitu, gimana lagi supaya kamu bisa selamat dari murka Allah?”
Lelaki itu kemudian menangis. “Ya Ibrahim, cukup ... jangan kau teruskan lagi. Saya akan bertaubat nasuha kepada Allah.”
Lelaki itu menepati janji. Semenjak itu ia bertaubat dan menjalankan perintah Allah.
sumber : muslimmuda.com

Selasa, 24 Desember 2013

WASIAT

Ambillah Pelajaran dari "WASIAT ALI BIN ABU THALIB KEPADA KUMAIL BIN
ZIYAD BIN NAHIK AN-NAKH'I"

Kumai! bin Zayyad An-Nakha'i1 berkata, bahwa Ali bin Abu Thalib
Radhiyallahu Anhu menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar
ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi,
Ali bin Abu Thalib duduk kemudian menarik nafas panjang, la berkata, "Hal
Kumal bwi Zayyad. sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling
baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan kepadamu.
Manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani7, penuntut ilmu
di atas Jalan keselamatan, dan orang-orang Jelata pengikut semua penyeru.
Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar
dengan cahaya Imu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh.
Ilmu lebih bait daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga
harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang harta berkurang
dengan infak, dan mencintai Ilmu adalah agama.
Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang
sepeninggalnya, sedang kebalkan karena harta Itu hilang bersamaan dengan
hilangnya harta.
Para penyimpan harta telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup,
sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah stna, namun
suri tauladan mereka tetap melekat di dalam hati.
Ha..haa. Sesungguhnya di sini -sambil menunjuk ke dadanya- ada ilmu, jika
aku menerimanya dengan benar.3
Namun, sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun
tidak amanah di dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli
dunia, meminta diperlihatkan hujjah-hujjah Allah terhadap Kttab-Nya,
nikmat- nikmat- Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau diberikan kepada
orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata di dalamnya.
Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang datang
kepadanya, la tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu. la tidak
mengetahui di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jka ia
salah, ia tidak mengetahui kesalahannya, la hobi terhadap hal-hal yang
hakikatnya tidak la ketahui, la menjadi fitnah bagi orang yang terkena
fitnahnya. Sesungguhnya puncak kebalkan adalah orang yang dikenalkan Allah
kepada agama-Nya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia tidak
mengenal agamanya, la tenggelam dalam kenikmatan, gampang disetir
syahwat, tergoda mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk
dai-dai agama. Sesuatu yang paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak.
4 Begitulah, ilmu mati dengan kematian orang-orang yang
mengembannya.'
Ya Allah, betul sekail bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela
Allah dengan huJJah-huJJah-Nya, agar hujjah-hujjah Allah dan keteranganketerangan-
Nya tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak,
namun mereka orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah.
Dengan mereka, Allah membela hujjah-hujjah-Nya hingga mereka
menunaikannya kepada orang-orang yang semisal dengan mereka, dan
menanamkannya ke dalam hati orang-orang yang seperti mereka. Dengan
mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka menganggap
enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan tidak
takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada
di dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang
tinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya
kepada agama-Nya.
Ha..Haa. Aku ingin rindu Ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan
kepada Allah untukku dan untuk-mu. J*a engkau mau, berdrilahl"
(Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatu At-Avtiya' jilid I hal. 79-80).

Jumat, 01 November 2013

BUSANA MUSLIMAH DAN WANITA KAFIR

Bukti Keimanan kita kepada Allah SWT adalah dgn bertakwa kepada-Nya yaitu dengan menjalankan semua apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.

Bagi wanita salah satu kewajiban itu adalah menutup auratnya secara sempurna dgn pakaian takwa yakni dng kain kerudung dan jilab. Maka seyogyanga wanita beriman ketika mengtahui apa apa yg mnjadi perintah Robbnya itu tidak lain mreka hanyalah mentaatinya, sebagaimana firman Allah pada QS Surah An Nur : 51

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Letak perbedaan wanita muslim dengan wanita kafir adalah juga terletak pada busana yg mereka gunakan. Bila wanita muslim besbusana degn menutup sluruh tubuhnya kcuali muka dn telapak tangannya, wanita kafir tidak demikian. Mreka (wanita kafir) berbusana semau mreka tnpa memandang apa yg mnjadi batasan aurat sbgaiman pada wanita muslim. Memakai celana, rok mini, baju kaos ketat, tabarruj, termasuk busana hasil dari liberalisasi kafir barat seperti baju panjang seperti jubah tp ketat, kerudung dgn sgla variasi cara mnggunakannya salah satunya dgn cara mencekikkan melilit keleher.

Berikut adalh pakaian yg diperintahkan oleh Allah SWT sbagaimana dalm Firman-Nya :

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, "Agar mereka menjaga pandangannya , dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), …..” (TQS An Nur : 31)

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Al Ahzab : 59)
Catatan :
*kerudung adalah kain yang dijulurkan sehingga menutupi kepala, leher dan dada.
* Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lebar yang dapat menutup seluruh tubuh wanita di samping baju biasa (baju yang biasa dipakai dalam rumah oleh wanita) dan kerudung.
Jadi bila ada wanita muslim yg tidak berbusana selayaknya apa yg diprintahkan Allah, maka ada 3 alasan.Pertama, mreka belum paham atas kewajibannya tuk mutup aurat secara sempurna; Kedua, mreka memamahi tp ingkar dalam mlaksakannya; Ketiga, mreka lebih condong merendahkan harkat dan martabatnya bhkan mbawa dirinyadalm kesesatan bersama orang-kafir laknatullah. Wallahu ‘alam bi asshawab