Manusia memang makhluk yang paling mulia. Namun ia juga paling
rakus terhadap kenikmatan dunia. la cintai dunia dengan membabi buta. Tak
pernah lelah ia kejar dunia sehingga tubuh lekas tua dan akal cepat pikun.
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda:
"Dua perkara yang
membuat anak Adam cepat pikun dan cepat tua: rakus terhadap harta dan rakus
terhadap umur." 2
Angan-angan hamba untuk menghimpun dunia tidak pernah terpuaskan.
Bahkan, semakin bertambah hartanya semakin ia menginginkan yang lebih. Tak
pernah puas ia hingga mulutnya disumbat dengan tanah kuburan.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
“Andaikata anak Adam
punya satu lembah dari emas maka ia akan senang bila punya satu lembah lainnya
dan tidak akan penuh mulutnya kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima tobat
orang yang bertobat." 3
Harta kekayaan dan nikmat dunia tidaklah tercela, namun yang
tercela adalah prilaku seorang hamba terhadapnya, dengan sifat rakus dan tamak
kepadanya, mencarinya dengan cara tidak halal, tidak menunaikan hak-haknya,
membelanjakan bukan pada tempatnya, bersikap melampui batas atau sombong
karenanya sehingga Allah berfirman:
"Ketahuilah,
sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya
serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)," (QS.
Al-'Alaq [96]: 6-8).
Wahai manusia, ingatlah dunia yang
kalian tekuni, karier yang kalian kejar, kesejahteraan yang kalian dambakan,
ketenangan yang kalian idamkan, kebahagiaan yang kalian inginkan dan kemewahan
yang kalian impikan pasti akan berakhir dengan kepunahan dan kematian, apa pun
yang ada di dunia ini pasti akan sirna. Dunia tempat di mana kenistaan bertahta
dan ketamakkan sebagai raja, kezaliman berkuasa, kesengsaraan sebagai busana,
sehingga dunia laksana pelacur yang tidak pernah setia kepada suaminya.4
Orang yang mengejarnya bagaikan mengejar binatang buas dan orang yang
mencarinya laksana sedang berenang di danau buaya, dan orang yang menikmatinya
ibarat meminum air garam yang tidak pernah merasa puas.
Sudah menjadi ketetapan sunnatullah
bahwa sifat dunia fluktuatif, gampang terkena krisis dan cepat berganti layar,
yang kaya jatuh miskin, yang sehat jatuh sakit dan yang bekerja terkena PHK
atau pensiun.
"Dan berilah
perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang
Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka
bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin
dan adalah Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu," (QS. Al-Kahfi [18]: 45).
Karena nikmat dunia dan harta kekayaan hanya sekadar fitnah yang
menipu dan nikmat sesaat yang menyilaukan, maka hendaklah seorang hamba
berhati-hati dalam menyikapinya. Jangan tenggelam dan terlena dalam gemerlap,
keindahan dan kesenangannya. Allah mengingatkan dengan firman-Nya:
"Dan ketahuilah,
bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di
sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfaal [8]: 28).
Hampir seluruh manusia tak ada yang
tidak mengenal uang atau dirham, mereka mencarinya dengan sekuat tenaga untuk
memenuhi kebutuhannya dan mempertahankannya dengan segala upaya, bahkan
sebagian orang beranggapan bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang manusia
berkuasa, dengan uang manusia bebas bertindak dan dengan uang dunia bisa
ditaklukkan. Mereka tidak sadar bahwa dengan atau karena uang manusia bisa
sengsara, kecuali uang atau dirham yang berada di tangan orang yang bertakwa.
Dirham ada empat macam: dirham yang didapat dengan ketaatan kepada Allah dan
dibelanjakan untuk hak Allah, maka hal itu sebaik-baik dirham. Dirham yang
didapat dengan cara maksiat kepada Allah dan dibelanjakan untuk menentang
Allah, maka itu seburuk-buruknya dirham, Dirham yang didapat dengan menyakiti
seorang muslim dan dibelanjakan untuk menyakiti orang muslim, dan dirham
didapat dengan cara mubah dan dibelanjakan untuk mencari kesenangan yang mubah,
maka hal ini tidak ada resiko apa-apa." 5
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
"Seorang hamba
berkata, 'Hartaku, hartaku.' Padahal sungguh dia tidak punya harta kecuali
tiga, yang telah dimakan suatu ketika menjadi kotoran atau yang dikenakan
sebagai pakaian suatu ketika akan rusak dan yang diberikan suatu ketika akan menjadi
simpanan (akhirat) dan selain itu akan lenyap dan ditinggalkan untuk
manusia." 6
Yahya bin Muadz berkata, "Dirham itu seperti kalajengking,
bila anda tidak pandai meruqyah (jampi) jangan mengambilnya, karena jika ia
menyengatnya maka kaumnya akan membunuhmu." Beliau ditanya, 'Apa yang
dimaksud ruqyahnya (jampi)?' Beliau menjawab, 'Mengambil yang halal dan
menunaikan haknya.' Beliau berkata, 'Dua bencana menimpa dirinya akibat
hartanya pada saat matinya, sementara semua makhluk belum pernah mendengarkannya.'
Beliau ditanya, 'Apakah dua bencana
itu?' Beliau menjawab, 'Semua hartanya diambil orang lain,
sementara dia dimintai tanggung jawab semuanya.'" 7
Wahai saudaraku, sederhanalah dalam mencari harta. Jangan rakus
dan membabi buta tanpa memerhatikan aturan agama, dan jangan menodai hak orang
lain, karena rezekimu tidak akan berpindah ke tangan orang lain, karena Nabi
bersabda:
"Seandainya anak
Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, maka rezekinya akan
menemuinya sebagaimana kematian menemuinya." 8
Seorang hamba dalam mengarungi kehidupan hanya butuh terhadap tiga
pilar karena tidak akan sukses kecuali dengannya: bersyukur, mencari kesehatan,
dan bertobat dengan tobat nasuha.' 9
Maka cara terbaik untuk menghadapi perubahan dunia yang serba
ekstrim adalah bersikap sederhana dalam mencari penghidupan dan bersikap wajar
dalam membelanjakan harta. Jika kamu sekarang berkecukupan jangan terlalu
gundah gulana dan goncang batin dalam menghadapi masa depan. Kita harus yakin
bahwa rezeki pasti datang, dan takut miskin adalah tipu daya setan. Hendaknya
pula memahami keutamaan sikap qana'ah, dan orang rakus
pasti hidupnya terhina. Dan hendaknya memikirkan bahaya menumpuk harta dan
keutamaan kemiskinan.
Catatan :
1.
Shahih diriwayatkan
Imam Muslim dalam Shahihnya (2956) dan Imam at-Tirmidzi dalam sunannya (2324)
dan lihat Shahihul Jami’ no. 3412.
2.
Shahih diriwayatkan
Imam Muslim dalam Shahihnya (1047) Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2339) dan Imam
Ibnu Majah dalam Sunannya (4234)
3.
Shahih diriwayatkan
Imam Muslim dalam Shahihnya (1048) dan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2337)
4.
Lihat al-Fawaid,
Ibnu Qayyim, hal. 71.
5.
Lihat al-Fawaid,
Ibnu Qayyim, hal. 246.
6.
Shahih diriwayatkan
Imam Muslim dalam Shahihnya (2959) dan lihat Shahihul Jami' no: 8133.
7.
Lihat Mukhtashar
Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal 185.
8.
Lihat Shahihul Jami'
no: 5240.
9.
Lihat al-Fawaid,
Ibnu Qayyim, hal. 288.



