Daftar Blog Saya

Sabtu, 01 Februari 2014

DUNIA TEMPAT SINGGAH SESAAT


 
 
Banyak orang lupa atau tidak sadar bahwa dunia hanya sebagai tempat peristirahatan sementara dan tempat tinggal sejenak untuk mencari bekal perjalanan menuju kampung akhirat. Oleh karena itu dunia hanya sebagai lahan untuk beramal dan tempat untuk beribadah kepada Allah sedangkan akhirat sebagai kampung menuai balasan dan memetik pahala. Betapa indahnya tafsir ulama terhadap firman Allah:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi," (QS..Al-Qashash [28]: 77).
yang menegaskan: Carilah dengan karunia Allah yang diberikan kepadamu untuk kepentingan akhirat, yaitu surga, karena seorang mukmin harus bisa menggunakan nikmat dunia untuk kepentingan akhirat, bukan untuk (kepentingan) tanah, (kenikmatan) air, kesombongan dan melampaui batas. Sehingga seakan-akan mereka berkata: "Janganlah kamu terlena karena kamu akan meninggalkan semua hartamu kecuali bagianmu, yaitu kain kafan." 1

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah memegang pundakku, lalu bersabda:
"Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara." Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: "Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati," (HR. Bukhari No. 6416).
Selayaknya kita bersiap diri meninggalkan kampung dunia menuju kampung akhirat dengan selalu menambah simpanan kebaikan, bersegera memenuhi panggilan Allah, memperbanyak bekal dan bertobat dengan tobat nasuha, kalau tidak, kita pasti akan tertipu fatamorgana dunia, sedang tabiat dunia hanya satu, dunia meninggalkan kita atau kita meninggalkan dunia. Manakah lebih dahulu menghampiri kita, hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Menentukan.

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata:

"Rasulullah tidur di atas tikar lalu bangun sedangkan lambungnya tergores-gores dengannya, maka kami berkata, 'Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak menyuruhku mencari alas?' Maka beliau berkata, 'Apu urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti orang yang sedang naik kendaraan berteduh di bawah pohon kemudian pergi meninggalkannya?'" 2

Ali bin Abu Thalib berkata, "Sungguh dunia semakin habis berlalu dan akhirat semakin mendekat, sedangkan keduanya masing-masing mempunyai anak turunan. Dan jadilah kalian anak turunan akhirat dan jangan menjadi anak turunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada hisab dan besok hanya ada hisab sementara tidak ada kesempatan beramal." 3

Wahai saudaraku kaum muslimin, ingatlah akan empat perkara: Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka tentramlah jiwaku. Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka Aku pun disibukkan dengannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka segera Aku menyiapkannya. Dan Aku tahu bahwa diriku tidak akan lepasvdari pantauan Allah, maka Aku akan merasa malu kepada-Nya. 4

Orang yang membersihkan hatinya dari sifat rakus dan serakah akan merasa ringan untuk meninggalkannya, senantiasa siap untuk bertemu dengan Rabbnya, dengan penuh semangat menyongsong masa depan yaitu akhirat, dan selalu siaga menyambut kematian. Nabi bersabda:
"Jika cahaya telah masuk ke dalam hati, maka akan menjadi lapang dan tenang." Mereka bertanya, "Dan apakah tanda-tandanya wahai Rasulullah? "Beliau bersabda, "Bersiap siaga untuk kembali ke kampung kekekalan, bersiap siaga untuk berpisah dengan kampung penuh penipuan (dunia), dan bersiap siaga untuk dijemput kematian sebelum kehadirannya." 5

Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya, mengikuti rayuan setan dan mengumbar hawa nafsu, niscaya ia akan terjatuh ke dalam berbagai macam dosa dan maksiat, akhirnya kehilangan nikmat surga di akhirat.
"Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata," (QS. Al-Hajj [22]: 11).
Abdullah bin Aizar berkata, "Anak Adam mempunyai dua rumah hunian: Rumah hunian yang berada di atas bumi dan rumah hunian yang berada di bawah bumi. Mereka berusaha mempercantik dan memperindah rumah hunian yang berada di atas bumi, mereka membuat pintu-pintu menghadap sebelah kiri, pintu-pintu menghadap sebelah kanan, dan mereka berusaha membuat penghangat untuk musim dingin dan membuat pendingin untuk musim panas. Kemudian berusaha membuat rumah hunian yang berada dibawah bumi, ternyata malah merusaknya. Lalu ada yang datang berkata, 'Sudahkah kamu berfikir? Rumah yang berada di atas bumi sementara kamu bangun dengan megah. Berapa lama kamu tinggal di dalamnya?' Dia menjawab, Tidak tahu secara persis.' 'Dan sedangkan rumah hunian yang berada di bawah bumi yang kamu rusak, berapa lama kamu akan tinggal di tempat itu?' Dia menjawab, 'Aku akan tinggal di tempat itu hingga Hari Kiamat.' Maka orang tersebut berkata kepadanya, 'Bagaimana kamu bisa merasa tidak bersalah dengan tindakanmu itu, sementara kamu seorang hamba yang berakal sehat?'" 6

Catatan :

1.     Lihat adz-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi, hal. 15-16 dan Syarhus Sudur, Imam as-Suyuthi, hal.20.
2.     Shahih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (2377), Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (4109) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (3709 dan 3744)
3.     Dikeluarkan Imam Bukhari dalam Kitab Riqaq, Bab Fil Amal Wa Thulihi dan lihat Fathul Bari, 11/265.
4.     Manaqib Al-lman Ahmad, Ibnu Jauzi, Maktabah Al-Hany bab: As siaru vol.11 hal 485 dan Wafayat Al A'yan,op,cit, vol 2 hal 27.
5.     Zadul Ma'ad, Ibnu Qayyim 2/ 23.
6.     Lihat Majmu Rasail Ibnu Rajab, risalah Ahwalul Qubur, hal. 295.




Kamis, 30 Januari 2014

FITNAH DUNIA

           Dunia merupakan hunian yang penuh dengan fitnah dan cobaan. Dan ia terus berubah. la tak abadi. Kadang ia pasang, kadang surut. Kadang ramah, kadang buas sebagaimana nasib para penghuninya. Dunia adalah surga dan neraka.
"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir." 1
Manusia memang makhluk yang paling mulia. Namun ia juga paling rakus terhadap kenikmatan dunia. la cintai dunia dengan membabi buta. Tak pernah lelah ia kejar dunia sehingga tubuh lekas tua dan akal cepat pikun.
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda:
"Dua perkara yang membuat anak Adam cepat pikun dan cepat tua: rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur." 2
Angan-angan hamba untuk menghimpun dunia tidak pernah terpuaskan. Bahkan, semakin bertambah hartanya semakin ia menginginkan yang lebih. Tak pernah puas ia hingga mulutnya disumbat dengan tanah kuburan.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
“Andaikata anak Adam punya satu lembah dari emas maka ia akan senang bila punya satu lembah lainnya dan tidak akan penuh mulutnya kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat." 3
Harta kekayaan dan nikmat dunia tidaklah tercela, namun yang tercela adalah prilaku seorang hamba terhadapnya, dengan sifat rakus dan tamak kepadanya, mencarinya dengan cara tidak halal, tidak menunaikan hak-haknya, membelanjakan bukan pada tempatnya, bersikap melampui batas atau sombong karenanya sehingga Allah berfirman:



"Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)," (QS. Al-'Alaq [96]: 6-8).
Wahai manusia, ingatlah dunia yang kalian tekuni, karier yang kalian kejar, kesejahteraan yang kalian dambakan, ketenangan yang kalian idamkan, kebahagiaan yang kalian inginkan dan kemewahan yang kalian impikan pasti akan berakhir dengan kepunahan dan kematian, apa pun yang ada di dunia ini pasti akan sirna. Dunia tempat di mana kenistaan bertahta dan ketamakkan sebagai raja, kezaliman berkuasa, kesengsaraan sebagai busana, sehingga dunia laksana pelacur yang tidak pernah setia kepada suaminya.4 Orang yang mengejarnya bagaikan mengejar binatang buas dan orang yang mencarinya laksana sedang berenang di danau buaya, dan orang yang menikmatinya ibarat meminum air garam yang tidak pernah merasa puas.
Sudah menjadi ketetapan sunnatullah bahwa sifat dunia fluktuatif, gampang terkena krisis dan cepat berganti layar, yang kaya jatuh miskin, yang sehat jatuh sakit dan yang bekerja terkena PHK atau pensiun.
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin dan adalah Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu," (QS. Al-Kahfi [18]: 45).
Karena nikmat dunia dan harta kekayaan hanya sekadar fitnah yang menipu dan nikmat sesaat yang menyilaukan, maka hendaklah seorang hamba berhati-hati dalam menyikapinya. Jangan tenggelam dan terlena dalam gemerlap, keindahan dan kesenangannya. Allah mengingatkan dengan firman-Nya:

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfaal [8]: 28).
Hampir seluruh manusia tak ada yang tidak mengenal uang atau dirham, mereka mencarinya dengan sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankannya dengan segala upaya, bahkan sebagian orang beranggapan bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang manusia berkuasa, dengan uang manusia bebas bertindak dan dengan uang dunia bisa ditaklukkan. Mereka tidak sadar bahwa dengan atau karena uang manusia bisa sengsara, kecuali uang atau dirham yang berada di tangan orang yang bertakwa. Dirham ada empat macam: dirham yang didapat dengan ketaatan kepada Allah dan dibelanjakan untuk hak Allah, maka hal itu sebaik-baik dirham. Dirham yang didapat dengan cara maksiat kepada Allah dan dibelanjakan untuk menentang Allah, maka itu seburuk-buruknya dirham, Dirham yang didapat dengan menyakiti seorang muslim dan dibelanjakan untuk menyakiti orang muslim, dan dirham didapat dengan cara mubah dan dibelanjakan untuk mencari kesenangan yang mubah, maka hal ini tidak ada resiko apa-apa." 5
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
"Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku.' Padahal sungguh dia tidak punya harta kecuali tiga, yang telah dimakan suatu ketika menjadi kotoran atau yang dikenakan sebagai pakaian suatu ketika akan rusak dan yang diberikan suatu ketika akan menjadi simpanan (akhirat) dan selain itu akan lenyap dan ditinggalkan untuk manusia." 6
Yahya bin Muadz berkata, "Dirham itu seperti kalajengking, bila anda tidak pandai meruqyah (jampi) jangan mengambilnya, karena jika ia menyengatnya maka kaumnya akan membunuhmu." Beliau ditanya, 'Apa yang dimaksud ruqyahnya (jampi)?' Beliau menjawab, 'Mengambil yang halal dan menunaikan haknya.' Beliau berkata, 'Dua bencana menimpa dirinya akibat hartanya pada saat matinya, sementara semua makhluk belum pernah mendengarkannya.' Beliau ditanya, 'Apakah dua bencana
itu?' Beliau menjawab, 'Semua hartanya diambil orang lain, sementara dia dimintai tanggung jawab semuanya.'" 7
Wahai saudaraku, sederhanalah dalam mencari harta. Jangan rakus dan membabi buta tanpa memerhatikan aturan agama, dan jangan menodai hak orang lain, karena rezekimu tidak akan berpindah ke tangan orang lain, karena Nabi bersabda:
"Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, maka rezekinya akan menemuinya sebagaimana kematian menemuinya." 8
Seorang hamba dalam mengarungi kehidupan hanya butuh terhadap tiga pilar karena tidak akan sukses kecuali dengannya: bersyukur, mencari kesehatan, dan bertobat dengan tobat nasuha.' 9
Maka cara terbaik untuk menghadapi perubahan dunia yang serba ekstrim adalah bersikap sederhana dalam mencari penghidupan dan bersikap wajar dalam membelanjakan harta. Jika kamu sekarang berkecukupan jangan terlalu gundah gulana dan goncang batin dalam menghadapi masa depan. Kita harus yakin bahwa rezeki pasti datang, dan takut miskin adalah tipu daya setan. Hendaknya pula memahami keutamaan sikap qana'ah, dan orang rakus pasti hidupnya terhina. Dan hendaknya memikirkan bahaya menumpuk harta dan keutamaan kemiskinan.

Catatan :
1.       Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (2956) dan Imam at-Tirmidzi dalam sunannya (2324) dan lihat Shahihul Jami’ no. 3412.
2.       Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (1047) Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2339) dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (4234)
3.       Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (1048) dan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2337)
4.       Lihat al-Fawaid, Ibnu Qayyim, hal. 71.
5.       Lihat al-Fawaid, Ibnu Qayyim, hal. 246.
6.       Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (2959) dan lihat Shahihul Jami' no: 8133.
7.       Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal 185.
8.       Lihat Shahihul Jami' no: 5240.
9.       Lihat al-Fawaid, Ibnu Qayyim, hal. 288.




Senin, 30 Desember 2013

Renugan ; Untukmu, wahai Pengemban Dakwah



Sholat tapi maksiat
Haji tapi korupsi
Puasa tapi ngumpat
Zakat tapi ria’
Berkata tapi berdusta
Berjanji tapi mengingkari
Bila dipercaya ia berkhianat
Tingkah lakunya kurang/tidak beradap
Ada masalah pd individunya, lantas apa masalahnya? Dia belum paham, maka tugas Pengemban Dakwah adalah memahamkannya.

Syariat Islam itu kejam
Negara Islam itu hanya ilusi
Khilafah itu tidak wajib
Khilafah itu utopis
Demokrasi tidak haram
Demokrasi bias dijadikan alat perjuangan tuk mnerapkan syariah Islam
Menjadikan orang kafir sebagai kawan itu  boleh
Pemerintahan Islam tidak harus dengan Khilafah. Boleh kerajaan, parlementer, presidensil dll
Ada masalah pd individunya, lantas apa masalahnya? Dia belum paham, maka tugas Pengemban Dakwah adalah memahamkannya.


Sikap Tegas Harun Ar-Rasyid Terhadap Nakfur, Raja Romawi



Pada tahun 187 H, Khalifah Harun ar-Rasyid menerima surat dari Kaisar Romawi, Nakfur (Nicephorus I [802-811 M]). Surat ini berisi pembatalan kesepakatan yang ada antara kaum Muslim dan Ratu Irene (797-802 M), Ratu Romawi.

Bunyi surat itu sebagai berikut:

“Dari Nakfur, Kaisar Romawi kepada Harun, Raja Arab. Sesungguhnya Ratu yang berkuasa sebelum saya telah memosisikan kamu laksana burung garuda raksasa, sedangkan dia sendiri memosisikan dirinya sebagai burung elang sehingga membuat dirinya membawa harta-hartanya kepadamu. Ini karena lemahnya seorang wanita dan kebodohannya. Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikanlah harta yang telah dia serahkan kepadamu sebelum ini. Jika tidak, maka pedanglah yang akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu.”

Ketika membaca surat ini, Khalifah Harun ar-Rasyid sangat tersinggung dan marah, sehingga tidak ada satu orang pun yang sanggup melihat wajahnya, dan berbicara dengannya. Orang-orang yang ada di sekelilingnya langsung berpencar, karena takut terkena marah. Lalu, ia meminta tinta, dan segera menulis surat balasan. Surat balasan itu berbunyi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Saya telah membaca surat kamu dengan jelas, wahai anak wanita kafir. Sebagai jawabannya, bukanlah apa yang kamu dengar, tetapi apa yang akan kamu lihat. Salam.”

Sang Khalifah pun berangkat pada hari yang sama, dan terus merangsek hingga ke Asia Kecil, hingga mencapai puncaknya tatkala ia menaklukkan Heraklius. Peristiwa ini merupakan peperangan yang sangat masyhur, sekaligus merupakan penaklukan yang sangat gemilang. Akhirnya, Nakfur minta dilakukan perundingan damai dengan cara membayar upeti tiap tahun. Khalifah agung itu pun menerima tawaran itu.

Sayangnya, tatkala kembali ke Riqqah, Anjing Romawi itu pun kembali menjilat ludahnya, mengingkari janjinya sendiri. Dengan anggapan, tidak mungkin Harun ar-Rasyid akan melakukan serangan kembali di musim dingin. Akhirnya, sang Khalifah agung ini kembali menyerang Romawi, hingga sampai ke teras Istana Kaisar Romawi yang tolol itu. Begitulah, wibawa penguasa kaum Muslim di mata musuhnya, yang sanggup menyumbat mulutnya dengan jihad, hingga tujuannya tercapai, dan mulutnya tidak lagi bisa mengingkari kesepakannya.

Abu al-‘Atahiyyah, dalam bait syairnya, melukiskan dengan indah peristiwa itu:

“Ketahuilah, Heraklius telah menyeru untuk hancurkan dirinya
Oleh raja yang bijak dan penuh nurani
Harun berangkat dengan membentangkan kematian
Dengan kilatan pedang yang begitu tajam..
Sedangkan panji-panji berkibar sebagai tanda kemenangan
Laksana awan yang bergerak dengan demikian kencang..

Pada tahun yang sama, Khalifah Harun ar-Rasyid telah membebaskan seluruh kaum Muslim yang menjadi tawanan Romawi, di seluruh wilayah Romawi, sehingga tidak ada lagi seorang Muslim pun yang tersisa menjadi tawanan mereka. [dinukil dari Tarikh al-Khulafa’, karya Imam as-Suyuthi, hal. 349-350]

Sabtu, 28 Desember 2013

BERBUAT MAKSIAT

Silakan berbuat maksiat, tp penuhilah 5 syarat !




Pada suatu ada seorang pemuda yang menemui Ibrahim bin Adham r.a. dan berkata, “Ya Aba Ishak! Saya ini suka melakukan dosa. Tolong dong, ada tips nggak biar saya bisa nggak maksiat lagi.”
Mendengar hal ini, Ibrahim bin Adham r.a. pun berkata, “Jika bisa memenuhi lima syarat berikut ini, kamu bebas untuk melakukan perbuatan maksiat.”
“Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?” Lelaki itu tak sabar mendengar berita gembira itu.”

“Syarat pertama,” Ujar Aba Ishak, “jika kamu ingin bermaksiat pada Allah, jangan mengkonsumsi rezeki-Nya.”
Lelaki itu bingung dan berkata, “Lha, terus saya mau makan apa? Kan semua ini adalah rezeki dari Allah.”
“Kalau begitu, apa pantas kamu makan rezeki-Nya sedang kamu melanggar perintah-Nya?”
“Oke deh,

syarat keduanya apa?”
“Kalau kamu mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya.”
“Hah? Waduh. Terus aku mau tinggal di mana? Bumi dan seisinya ini kan milik Allah.”
“Ya Abdallah, mikir dong, apa kamu pantes makan rezki Allah dan nge-kos di bumi-Nya sedangkan kamu bermaksiat pada Allah.”
“Ya... iya deh.

Terus syarat ketiganya apaan?”
“Kalau kamu mau bermaksiat kepada Allah, tapi juga ingin memakan rezki-Nya dan tinggal di tempat-Nya, bermaksiat-Nya di tempat yang nggak diliat-Nya aja.”
“Ya Ibrahim. Ini nasehat macam apa? Mana mungkin saya ngumpet di tempat yang tidak dilihat-Nya.”
“Nyerah deh.

Syarat keempatnya apa?”
“Kalau malaikat maut datang menjemput kamu, bilangin ke dia, “nanti aja matinya. Saya masih mau tobat dan beramal saleh dulu.””
“Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat mau nurut omongan saya.”
“Lha, kalo kamu sadar bahwa kematian nggak bisa ditunda, terus jalan apa yang bisa membuat kamu keluar dari murka Allah?”

“Ya sudah, sekarang syarat kelimanya.”
”Nanti di akherat, kalau malaikat Zabaniyah datang untuk membawa kamu ke neraka, jangan ikut sama dia.”
“Ya Aba Ishak. Mana mungkin malaikat Zabaniyah menerima keberatan saya.”
“Kalau begitu, gimana lagi supaya kamu bisa selamat dari murka Allah?”
Lelaki itu kemudian menangis. “Ya Ibrahim, cukup ... jangan kau teruskan lagi. Saya akan bertaubat nasuha kepada Allah.”
Lelaki itu menepati janji. Semenjak itu ia bertaubat dan menjalankan perintah Allah.
sumber : muslimmuda.com

Selasa, 24 Desember 2013

WASIAT

Ambillah Pelajaran dari "WASIAT ALI BIN ABU THALIB KEPADA KUMAIL BIN
ZIYAD BIN NAHIK AN-NAKH'I"

Kumai! bin Zayyad An-Nakha'i1 berkata, bahwa Ali bin Abu Thalib
Radhiyallahu Anhu menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar
ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi,
Ali bin Abu Thalib duduk kemudian menarik nafas panjang, la berkata, "Hal
Kumal bwi Zayyad. sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling
baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan kepadamu.
Manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani7, penuntut ilmu
di atas Jalan keselamatan, dan orang-orang Jelata pengikut semua penyeru.
Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar
dengan cahaya Imu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh.
Ilmu lebih bait daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga
harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang harta berkurang
dengan infak, dan mencintai Ilmu adalah agama.
Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang
sepeninggalnya, sedang kebalkan karena harta Itu hilang bersamaan dengan
hilangnya harta.
Para penyimpan harta telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup,
sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah stna, namun
suri tauladan mereka tetap melekat di dalam hati.
Ha..haa. Sesungguhnya di sini -sambil menunjuk ke dadanya- ada ilmu, jika
aku menerimanya dengan benar.3
Namun, sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun
tidak amanah di dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli
dunia, meminta diperlihatkan hujjah-hujjah Allah terhadap Kttab-Nya,
nikmat- nikmat- Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau diberikan kepada
orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata di dalamnya.
Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang datang
kepadanya, la tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu. la tidak
mengetahui di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jka ia
salah, ia tidak mengetahui kesalahannya, la hobi terhadap hal-hal yang
hakikatnya tidak la ketahui, la menjadi fitnah bagi orang yang terkena
fitnahnya. Sesungguhnya puncak kebalkan adalah orang yang dikenalkan Allah
kepada agama-Nya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia tidak
mengenal agamanya, la tenggelam dalam kenikmatan, gampang disetir
syahwat, tergoda mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk
dai-dai agama. Sesuatu yang paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak.
4 Begitulah, ilmu mati dengan kematian orang-orang yang
mengembannya.'
Ya Allah, betul sekail bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela
Allah dengan huJJah-huJJah-Nya, agar hujjah-hujjah Allah dan keteranganketerangan-
Nya tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak,
namun mereka orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah.
Dengan mereka, Allah membela hujjah-hujjah-Nya hingga mereka
menunaikannya kepada orang-orang yang semisal dengan mereka, dan
menanamkannya ke dalam hati orang-orang yang seperti mereka. Dengan
mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka menganggap
enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan tidak
takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada
di dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang
tinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya
kepada agama-Nya.
Ha..Haa. Aku ingin rindu Ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan
kepada Allah untukku dan untuk-mu. J*a engkau mau, berdrilahl"
(Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatu At-Avtiya' jilid I hal. 79-80).